riang senja |
Debora Dayu Ajeng Anggrahita, Public Relations. pengetahuan | imajinasi | alam | budaya :) Aku yakin setiap perempuan cantik dengan caranya. oxox :* |
Capucine
kecantikan terpancar dari garis wajah yang tegas. perempuan ini sederhana dalam berpakaian, tapi sepertinya ia besar karena pikirannya. walau di satu sisi ini kurang alami karena seperti sebuah photosession.
(Source: thethinkingtank, via rkhum)
Paris corners (by jukka_re)
GRINGOTTS DOES EXIST!! thought that J.K Rowling love Paris much :* someday, i’ll be there.
#151 “Family Photo Album”
Grandchild: which instagram filter did you use on these?! | me: hahahha, what an era.
(via world-shaker)
Made for siestas in Morocco…
Patio nook at the Four Seasons in Marrakech
all rhymes in one melody called home. warm, heal, ethnic, natural, elegant.
Minggu, 6 Mei 2012.
Detik-detik Waisak pukul 10:34:49 WIB

ki-at:Tiba di Candi Mendut. Sekitar jam 8.30WIB. Padat para umat Buddha dari berbagai Vihara dan Daerah. Mereka datang berkelompok dan mengenakan kaos berlengan seragam dengan identitas asal tertera di baju. ka-at: situasi di pintu masuk Candi Mendut. ki-ba: Api Suci. ka-ba: situasi setelah pintu masuk, dalam lokasi taman Candi Mendut.

ki-at: para simpatisan bercampur bersama beberapa umat Buddha yang berdiri menyaksikan prosesi detik-detik Waisak di samping Candi Mendut. ka-at: seorang Biksu duduk di pelataran Candi Mendut (nampaknya setelah berurusan dengan salah satu panitia). ki-te: doa dari masing-masing Sanga (baca: Sangga). Kurang tahu, mungkinkah seperti Romo dari Ordo-Ordo yang berbeda? ka-te: alunan doa yang konstan (bagi 3 suara) diiringi irama genderang menandakan penyambutan detik-detik Waisak. ki-ba: Sumi-Yang dan salah satu Bante melakukan wawancara untuk liputan Metro TV. ka-ba: situasi tenda WALUBI yang berada di samping tenda para Biksu yang melantunkan doa detik-detik Waisak.

ki-at: para biksu masih bersila setelah prosesi detik-detik Waisak dan setelah mendengarkan “homili”. ka-at: Candi Mendut dari balik tenda WALUBI. ki-ba: Umat Buddha berdoa menghaturkan persembahan berupa uang, sedap malam dan air minum ke Altar yang terdapat di dalam Candi. Sedap malam dan air minum banyak yang dibawa ke Candi Borobudur. ka-ba: seorang Biksu. di belakangnya adalah tenda ruang makan para Biksu.

ki-at: para biksu berbaris. persiapan prosesi berjalan kaki dari Candi mendut ke Candi Prambanan. Kami jalan sekitar 2 jam untuk mencapai Candi Borobudur. ka-at: Bendera Merah Putih (Indonesia) yang dibawa para paskibraka selama perjalanan menuju Candi Borobudur. ki-ba: barisan Puja Sarana. membawa persembahan makanan. ka-ba: Para Biksu memberi berkat pada para umat dan simpatisan. Oya, pengunjung, turis atau peserta yang bukan umat disebut simpatisan. Barisan simpatisan berada paling belakang sebelum rombongan Reog Ponorogo.
Candi Borobudur. ki-at: barisan para biksu yang turun dari Candi Borobudur hendak berdoa di tenda Majelis. Ada banyak tenda Majelis tapi belum tahu perbedaannya. ka-at: Para Biksu duduk di depan altar tenda, memulai doa dan meditasi. ba: seorang biksu menelepon setelah doa dan meditasi. iya, itu BlackBerry. Mungkin fasilitas.

Empat Sekawan dari Sleman, Yogyakarta. searah jarum jam dari ki-at: aku (Ajeng) dan Trio Pantura yaitu Merio dari Lasem, Anan dari Pati dan Titis dari Kudus :* my closest, good best friends :* :*

Pradaksina. Adalah penghormatan simbolik bagi Sang Buddha dengan berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 kali. at: Panggung Utama, Candi Borobudur di malam hari. ki-te: barisan para umat dan simpatisan yang hendak mengikuti prosesi pradaksina. ka-te: Lampion menuju Moon Beams :*. ba: suasana belakang panggung utama, Candi Borobudur, saat pradaksina.
Saat yang ditunggu: Pelepasan lampion. at: suasana Panggung Utama, Candi Borobudur dari kejauhan sebelum prosesi doa, pradaksina dan pelepasan lampion diselenggarakan. ki-te, teng-te, ka-te: pelepasan lampion, yang menuju bulan purnama, perlahan mengikuti arah angkin menuju timur. ki-ba: Della (berbandokan kacamata) melepas lampion bersama teman-temannya. Momen ini banyak dimanfaatkan oleh para umat dan simpatisan untuk menerbangkan lampion bersama orang dekat mereka. ka-ba: lautan tangan yang melepas lampion. semoga tangan mereka adalah simbol dari ucap doa, menyalur ke lampion yang terbawa angin. semoga banyak doa kebaikan bagi manusia dan semesta yang melayang sampai khayangan. :)
I LOVE THIS SKETCH! they look same but not :) wajah manusia adalah sama hanya pakaian yang berbeda. Auranya dipengaruhi oleh segala pikiran dan perbuatannya. I’m amazed!
(Source: owengentillustration)
El alfabeto de las películaas realizadas por el ilustrador Stephen Wildish
The Film Alphabet.
Melihat para biksu, saya jadi teringat pada Ajahn Brahm. Selama ini saya selalu membayangkan semua biksu seperti Ajahn Brahm. Setelah prosesi detik-detik Waisak, para umat Buddha mulai beranjak. Tapi saya tidak karena menurut saya justru pada saat itulah “homili”-nya. (homili adalah istilah untuk bagian misa atau kebaktian dimana Romo berkhotbah/berdakwah bagi umat). Sebelum kami beristirahat dan sebelum agenda makan siang, saya mencatat homili tersebut. Kalau tidak salah seorang Bante, ia berkata:
“Tak ada sesuatu pun di bumi disayangkan daripada kehilangan waktu. Kehilangan waktu berarti kehilangan waktu hidup juga. Kehilangan waktu hidup pun berarti hilang juga umur kita. Mari menjaga pikiran. Buddha bersabda, pikiran yang terlatih akan membawa kebahagiaan. Orang bijaksana yang tekun semedi walaupun hidupnya sehari lebih baik daripada hidupnya 100 tahun tapi tidak memiliki semangat dan tak pernah bersemedi. Oleh karena itu ingat pesan Buddha. Sang Buddha memberi jalan praktek bagi kita adalah jangan berbuat jahat, tambahlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Ingatkan anda sekalian bagaimana pesan terakhir Sang Buddha pada hari purnama Sidhi bulan waisak Kushinara, di tengah para raja dan umat, “O, para bikku segala sesuatu yang berkondisi tak kekal membebaskanmu dari kekotoran batin dengan penuh semangat.”. Isi dengan cinta kasih dan welas asih. Di dunia ini tidak ada yang menjadi milik kita walau diri kita sendiri. Kehidupan tidak cukup bagi keinginan. Waktu tidak cukup karena kehilangan. Belajar memahami kenyataan tidak ada masalah. Jangan meremehkan kebajikan walau kecil. Tuhan akan menolong kita yang menolong diri sendiri. Jangan menunda keselamatan diri sendiri. Metta Karuna.”
It’s healing. It’s relieving :)
It’s an interesting question you’ve asked my dear, but would love it more if you’ll uncover yourself.
Sometimes I’m asking myself about how little...
“Be a girl with a mind, a bitch with an attitude and a lady with class.”